Pada era globalisasi saat ini yang penuh dengan berbagai trend, membuat banyak masyarakat terkena perilaku impulsive buying. Perilaku ini berbeda dengan perilaku konsumtif. Hal ini dikarenakan impulsive buying berarti perilaku konsumen dalam membeli sesuatu tanpa berpikir dua kali akibat terjebak trend tertentu. Perilaku ini juga sering diakibatkan oleh keinginan sesaat.
Dengan berkembangnya media sosial, berbagai produk yang viral membuat sebagian besar masyarakat ingin membelinya. Misalnya, seperti munculnya produk skincare, make-up, bahkan trend fashion seamless saat Ramadan kemarin. Ketika produk tersebut muncul di media sosial, kamu segera membelinya tanpa berpikir dua kali.
Ditambah lagi dengan perkembangan berbagai marketplace dan online shop yang sering memberikan diskon, kamu semakin mudah tergiur dan membelinya tanpa berpikir panjang. Padahal, barang tersebut belum tentu kamu butuhkan.
Hal di atas merupakan contoh impulsive buying yang sering terjadi pada masyarakat akhir-akhir ini. Bahkan, menurut riset yang dilakukan oleh Thetradedesk.com, mengatakan bahwa hampir 42% populasi masyarakat Indonesia menjadi impulsive buyers karena adanya diskon produk.
Oleh karena itu, penting bagi kamu untuk mengetahui apa saja faktor pemicu impulsive buying dan cara mengatasinya. Mari simak artikel berikut ini untuk mengetahui lebih lanjut.
Key Takeaways:
- Impulsive buying berarti kecenderungan seorang pelanggan untuk membeli produk berupa barang atau jasa tanpa berpikir atau merencanakannya terlebih dahulu.
- Fear of Missing Out atau sering dikenal dengan singkatan FOMO sering dirasakan oleh para konsumen yang sangat memerhatikan gengsi serta status sosial.
- Pembelian barang dengan impulsif juga bisa diakibatkan oleh munculnya gambar yang menarik, iklan yang mencolok, dan influencer yang sering mempromosikan produk.
Definisi impulsive buying
Berdasarkan kutipan dari Siloam Hospitals (2024), Impulsive artinya suatu sikap ketika seseorang melakukan suatu tindakan tanpa memikirkan dampak dari apa yang dilakukan. Sementara itu, impulsive buying adalah suatu perilaku atau kebiasaan membeli barang tanpa direncanakan dan cenderung tidak dibutuhkan dan tidak memiliki manfaat tertentu.
Misalnya, kamu pergi ke pasar untuk membeli beras. Namun, sesampainya di sana, kamu justru memasukkan permen secara spontan ketika sedang membayar di kasir. Hal ini merupakan contoh pembelian impulsif.
Impulsive buying tidak dapat dikategorikan pada produk tertentu. Pembelian ini dapat terjadi pada produk apapun, bahkan produk berharga mahal sekalipun, seperti mobil, perhiasan, handphone, dan lain-lain.
Impulsive buying terjadi karena adanya pemikiran irasional dari konsumen. Hal ini dimanfaatkan oleh para pemasar untuk meningkatkan penjualan. Misalnya, menawarkan aksesoris tambahan untuk pembelian sebuah handphone, seperti adanya diskon paket dengan smartwatch dengan atau headset.
Faktor pemicu impulsive buying
Emosi memegang peranan penting akan adanya impulsive buying. Hal yang paling memmengaruhi emosi pelanggan secara kuat yaitu adanya penawaran menarik atau diskon besar-besaran. Hal ini membuat konsumen cenderung membeli tanpa berpikir terlebih dahulu.
Namun, terdapat beberapa faktor secara psikologi yang memicu terjadinya impulsive buying. Beberapa diantaranya:
Sensasi dalam mendapatkan penawaran terbaik
Konsumen seringkali termotivasi untuk membeli karena merasa mendapatkan penawaran terbaik dan merasa telah melakukan pengamatan tertentu. Hal ini bisa terjadi karena adanya promosi penjualan besar-besaran. Pembeli ini yakin bahwa produk tersebut bisa bermanfaat untuk jangka panjang sehingga ia memutuskan untuk membelinya tanpa berpikir dari segi nilai dan efektivitas biaya.
Stimulasi fisik
Kondisi lingkungan seperti suasana toko, aktivitas pemasaran, dan tata letak produk sangat memengaruhi perilaku konsumen. Hal ini juga menyebabkan impulsive buying terjadi dengan mudah. Misalnya, meletakkan produk diskon pada bagian depan toko, memasang banner diskon, menyambut konsumen dengan ramah, dan lain-lain.
Fear of Missing Out
Fear of Missing Out atau sering dikenal dengan singkatan FOMO sering dirasakan oleh para konsumen yang sangat memerhatikan gengsi serta status sosial. Pasalnya, sifat FOMO ini diakibatkan oleh perasaan akan takut ketinggalan tren terbaru. Misalnya, membeli baju yang sedang viral meskipun tidak dibutuhkan (Tim Medis Siloam Hospitals, 2023).
Sifat manusia yang dinamis
Manusia sering kali mudah merasakan bosan akan hal yang begitu-begitu saja. Hal ini dikarenakan manusia merupakan makhluk yang dinamis, sehingga suka mengalami perubahan. Sifat dinamis ini juga berlaku pada produk atau jasa tertentu. Impulsive buying sering kali terjadi pada konsumen yang membeli barang baru walaupun barang yang lama masih berfungsi dengan baik.
Cara Mengatasi Impulsive Buying
Impulsive buying memang sebagian besar diakibatkan oleh emosional manusia. Akan tetapi, terdapat beberapa cara untuk mengatasi impulsive buying. Beberapa diantaranya yaitu:
Menetapkan daftar belanja
Adanya daftar belanja, tidak hanya membantu kamu untuk mengingat apa yang ingin dibeli. Namun, ini juga dapat membuat kamu lebih terencana dan tidak impulsif. Pastikan untuk berbelanja sesuai dengan daftar yang telah ditetapkan agar kamu tidak boros.
Mengimplementasikan aturan 24 jam
Ketika kamu tergoda untuk membeli sesuatu, beri jeda selama 24 jam. Ini bertujuan untuk menciptakan jarak antara motivasi awal pembelian dan kebutuhan untuk membeli yang sebenarnya. Misalnya, seringkali kita terlalu bersemangat ketika melihat hal yang kita inginkan. Kamu dapat memberi jeda selama 24 jam. Dengan jeda tersebut berarti kamu berkesempatan untuk mempertimbangkan kembali apakah pembelian tersebut benar-benar dibutuhkan.
Berhenti mengikuti akun di media sosial yang memicu godaan
Pembelian barang dengan impulsif juga bisa diakibatkan oleh munculnya gambar yang menarik, iklan yang mencolok, dan influencer yang sering mempromosikan produk. Dengan kemajuan teknologi dan online marketplace, kamu hanya tinggal mengklik satu tombol untuk membeli suatu produk atau jasa. Hal ini merupakan contoh impulsive buying.
Memprioritaskan tujuan keuangan yang jelas
Kamu dapat mengatasi impulsive buying dengan mengetahui tujuan keuangan untuk jangka panjang. Biasanya tujuan keuangan bertujuan untuk memperoleh stabilitas finansial, seperti memiliki tabungan yang mencukupi, dana pensiun, dana darurat, atau memiliki aset dan sebagainya (Bennett, 2023).
Kamu perlu melakukan self reminder atas tujuan keuangan yang ingin dicapai untuk mengurangi keinginan membeli barang yang impulsif dan menggunakan uangnya untuk tabungan jangka panjang. Selalu menanamkan pola pikir positif, memperkuat komitmen serta kedisiplinan dalam diri kamu untuk mencapai tujuan yang lebih besar.
Kesimpulan
Mengelola perilaku impulsive buying dalam berbelanja semakin penting seiring berkembanya era globalisasi yang penuh akan tren dan godaan. Impulsive buying sering kali terjadi karena dorongan emosional dan keinginan sesaat yang tidak terencana, sehingga dapat berakibat pada pengeluaran yang tidak perlu dan bahkan ketidakstabilan finansial. Mengenali dan mengendalikan perilaku impulsif merupakan langkah penting menuju kesejahteraan finansial. Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain adalah menetapkan daftar belanja, mengimplementasikan aturan 24 jam, berhenti mengikuti akun media sosial yang memicu godaan, dan memprioritaskan tujuan keuangan yang jelas. Dengan menerapkan strategi-strategi ini, kita dapat lebih bijak dalam mengelola keuangan dan mencapai kestabilan finansial jangka panjang.
Tertarik membaca artikel serupa? Kamu bisa mengunjungi link berikut ini.